Klinik kesehatan ini alasan sejumlah masyarakat Kalimantan hentikan pembalakan liar

JAKARTA: Setiap bulan, Hamisah mengantar ibunya yang berusia 78 tahun ke klinik Alam Sehat Lestari (ASRI) di Provinsi Kalimantan Barat agar beliau bisa berobat. 

Uniknya, mereka selalu membawa bibit ketika pergi ke klinik di Kabupaten Kayong Utara tersebut.

“Orang tua saya biasanya berobat di ASRI dengan membayar dengan bibit,” kata Hamisah kepada CNA.

“Banyak yang melakukan hal serupa dan masyarakat di Kayong Utara terbantu dengan hadirnya Klinik ASRI yang memungkinkan masyarakat untuk tidak membayar dengan uang.”

Ayahnya yang berusia 82 tahun juga pergi ke klinik yang sama. Dia membayar dengan menggunakan bibit pilihannya seperti mangga, rambutan, atau jengkol.

Bekerja sama dengan organisasi yang berbasis di Amerika Serikat, Health in Harmony, klinik ASRI memberikan perawatan medis kepada orang-orang yang tidak memiliki banyak uang.

(ks) klinik Alam Sehat Lestari
Seorang dokter memeriksa pasien di klinik Alam Sehat Lestari. (Foto: Stephanie Gee/Alam Sehat Lestari)

Klinik ASRI didirikan untuk memberikan pelayanan kesehatan sekaligus melestarikan hutan, terutama di sekitar rawa gambut yang kaya karbon di Taman Nasional Gunung Palung. Tempat ini juga merupakan habitat orang utan yang terancam punah.

BACA: Dua pengusaha wanita Indonesia ini mengubah plastik yang sulit didaur ulang menjadi batu bata

Sejak 2007, klinik ASRI telah melayani sekitar 120.000 jiwa. Selain bibit, ASRI juga menerima barang-barang seperti kerajinan tangan dan pupuk sebagai imbalan atas layanan medis mereka.

Mereka menerima sekitar 20.000 hingga 30.000 bibit setiap tahun dari para pasien.

Hamisah, yang juga seorang kepala Dusun Sidorejo di Desa Sedahan Jaya, mengatakan warganya juga merasakan manfaat dari klinik tersebut dan pengetahuan mereka akan pentingnya lingkungan semakin meningkat dari tahun ke tahun.

TEBANG POHON UNTUK BAYAR ONGKOS BEROBAT

Semuanya berawal ketika ASRI dan pendiri Health in Harmony, Dr Kinari Webb, bertolak dari AS ke Taman Nasional Gunung Palung pada tahun 1993 sebagai seorang mahasiswa.

Ia tinggal jauh di dalam hutan untuk mempelajari orang utan dan berpikir itulah yang akan ia lakukan seumur hidup.

Namun, dia merasa sulit tinggal di dalam hutan karena setiap hari mendengar dari kejauhan suara gergaji pembalak liar yang sedang menebang pohon.

“Dan saya pikir apa gunanya mempelajari orang utan jika mereka tidak ada lagi,” kata Kinari kepada CNA.

“Saya sangat marah pada para penebang. Saya pikir mereka pasti orang yang buruk sekali.”

(ks) pasien klinik ASRI
Pasien di klinik ASRI dapat membayar dengan bibit pohon, kerajinan tangan dan pupuk. (Foto: Alam Sehat Lestari)

Ia kemudian berkenalan dengan beberapa dari mereka dan menyadari bahwa salah satu alasan mereka menebang pohon adalah untuk berobat.

“Dan itu menghancurkan hati saya,” kata Kinari.

Ia menambahkan bahwa tempat yang begitu penting bagi orang utan itu dirusak masyarakat “untuk kesejahteraan dan masa depan mereka karena daerah aliran sungai menghasilkan air untuk komunitas mereka dan mereka selalu berbicara tentang hutan sebagai ibu mereka”.

Lanjut Kinari: “Mereka mencintai hutan dan tidak ingin menebangnya. Namun, mereka tidak punya pilihan. Dan itu juga, tentu saja, melukai seluruh dunia … di mana semakin jelas betapa pentingnya hutan hujan ini untuk (melindungi dunia dari) perubahan iklim.”

BACA: Sulap sampah jadi wayang, seniman Indonesia ini bercita-cita jaga warisan budaya Nusantara

Kinari kemudian memutuskan untuk belajar ilmu kedokteran dan setelah lulus kuliah, dia kembali ke Taman Nasional Gunung Palung. Ia bertekad untuk membuat sebuah program yang fokus terhadap masalah kesehatan, lingkungan, dan ekonomi.

Bekerja sama dengan sekelompok orang Indonesia dan melalui proses yang memakan waktu 400 jam, mereka mendengarkan keinginan masyarakat dan membincangkan apa yang dibutuhkan mereka untuk melindungi hutan.

Para penduduk mengatakan mereka membutuhkan pelayanan kesehatan dan pelatihan pertanian organik.

(ks) Dokter Kinari Webb
Dr Kinari Webb adalah pendiri klinik Alam Sehat Lestari (ASRI) dan Health in Harmony. (Foto: Alam Sehat Lestari)

Oleh karena itu, pada tahun 2007 Kinari dan timnya mulai membantu mereka dengan mendirikan klinik ASRI.

Health in Harmony sekarang juga menjalankan program serupa di Madagaskar dan Brasil.

“Kami menemukan hal yang sama di tempat lain di bumi ini. Pelayanan kesehatan sering kali menjadi salah satu masalah utama,” kata Kinari.

Mereka juga telah membuat program serupa di sebuah taman nasional lain di Kalimantan Barat, di mana seorang wanita pernah berkata kepadanya: “Jika ada beberapa orang yang mengatakan bahwa mereka tidak pernah menebang pohon untuk membayar pelayanan kesehatan, mereka pasti berbohong.”

HASIL YANG MEMUASKAN

Rata-rata penebang di sekitar Taman Nasional Gunung Palung menebang 533 pohon per tahun, menurut temuan Health in Harmony.

Sejauh ini, Health in Harmony dan ASRI telah menginvestasikan US$5,2 juta (Rp73 miliar) untuk mendirikan klinik dan memberikan pelatihan.

Mereka menyimpulkan telah terjadi penurunan 67 persen dalam kematian bayi di masyarakat, dan jumlah rumah tangga penebang turun hingga 90 persen sejak kehadiran mereka di Kayong Utara.

BACA: Renyah dan ‘gosong’ – Pisang Goreng Madu Bu Nanik laris manis dari Jakarta hingga ke luar kota

Namun, beberapa penebang liar tetap bertahan dalam bisnis penebangan kayu.

Mereka merasa tidak memiliki pilihan mata pencarian lain karena tidak mempunyai tanah untuk bertani; yang dimiliki oleh mereka adalah gergaji pribadi.

Oleh sebab itu, Health in Harmony dan ASRI mengadakan program yang disebut Chainsaw Buyback (yang berarti pembelian kembali gergaji mesin).

(ks) penebang pohong ASRI
Health in Harmony dan ASRI memiliki program yang membantu penebang pohon untuk beralih mata pencaharian. (Foto: Stephanie Gee/Alam Sehat Lestari)

Program ini membantu para penebang untuk beralih pekerjaan dengan memberikan mereka pelatihan untuk mendirikan bisnis seperti usaha potong rambut dan karaoke.

Mereka juga bekerja sama dengan para wanita di desa untuk mendidik mereka tentang pentingnya reboisasi serta program pencegahan dan pengobatan tuberkulosis.

Penelitian Universitas Stanford baru-baru ini menunjukkan bahwa saat ini penebangan liar di Taman Nasional Gunung Palung 70 persen lebih sedikit dibandingkan dengan taman-taman nasional lain di Indonesia.

Jumlah karbon dioksida yang disimpan masyarakat selama bertahun-tahun hingga kini bernilai sekitar US$65 juta.

BACA: 5 sajian Indomie kreatif di Jakarta bagi para pencinta mi instan Indonesia

Atas usahanya, ASRI dan Health in Harmony memenangkan UN Global Climate Action Awards 2020 pada akhir Oktober untuk kategori Women for Results.

Hamisah senang mengetahui bahwa dia dapat memainkan peran penting dalam melindungi dunia.

Ia mengimbau agar semua orang melakukan hal yang sama, terutama jika ibu kota baru Indonesia kelak akan dibangun di Kalimantan.

“Kita harus memahami bahwa Kalimantan adalah paru-paru dunia. Pesan saya, kampanye pelestarian hutan harus diimbangi dengan kerja nyata dan kesadaran diri.

“Tidak ada perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan dalam melindungi hutan karena hutan adalah paru-paru dunia. Kita tidak bisa hidup sehat kalau hutan kita tidak terlindungi.”

Artikel ini diterjemahkan dari Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia yang satu ini.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.